Batik Modern Kediri Berkibar Hingga Prancis

Kasiana telah berkecimpung di dunia batik selama hampir 12 tahun. Menurutnya, banyak sekali sejarah Kediri yang perlu dilestarikan melalui gambar batik. Meski usianya sudah lanjut, perempuan berusia 69 tahun itu tetap semangat berinovasi dalam membuat pola khas di kota tahu. Di sini, dia tidak lagi fokus pada model batik yang ada, dia juga memakai batik modern.

Seperti terlihat pada galeri di depan rumahnya di Jalan Dandangan I / 154, Desa Dandangan, Kabupaten Kota, Kota Kediri. Meski hanya berukuran sekitar 1 × 1 meter, namun diisi dengan kain batik dengan berbagai corak. Hal yang sama berlaku untuk ruang tamu. Puluhan kain batik dengan berbagai corak tampak rapi di casing dan gantungan baju.

Ragam corak, warna dan corak rupanya menarik perhatian. Seperti yang ditunjukkan Kasiana kepada penulis. Sepotong kain dengan pola kuning, kontras dengan latar belakang biru. Ini motif tahu kuning. Begitu pula dengan kain batik yang diisi motif daun hijau menyegarkan. Menurut perempuan bercadar, motif tersebut menggambarkan Kediri Bersemi. Tak kalah menarik, ada juga batik dengan motif jembatan Brawijaya yang baru saja diresmikan oleh Walikota Kediri, Abdullah Abu Bakar |

Ada banyak cara Kasiana mengeksplorasi gambar-gambar yang dijadikan motif batik. Salah satunya adalah membaca cerita Kediri melalui internet. Selain itu, wanita asli Kediri juga sesekali mengikuti seminar budaya jika waktu dan tempat memungkinkan.

Dari situ, Kasiana mulai menggambar yang menurutnya menggambarkan kisah Kediri. Beberapa ide modul dasar juga didapat dari internet untuk di-tweak nanti agar tidak ada motif yang akan meniru karya orang lain.

Meski sudah berpuluh-puluh pola, Kasiana tak pernah mematenkan karyanya hingga kini. Hanya ada satu hal baru yang akan didaftarkan untuk hak patennya yaitu motif bunga teratai. Pasalnya, dengan alasan diminta pemerintah kota (Pemkot) Kediri tidak dijual bebas.

Kasiana juga membuat motif topeng spanduk. Namun, ia tak berniat mematenkannya karena selama ini banyak kabupaten di luar Kediri yang juga menyatakan bahwa bendera merupakan budaya asli mereka. Ini sebenarnya wajar. Pasalnya, dahulu kala Kerajaan Kediri mencakup wilayah yang luas hingga mencapai beberapa kabupaten di Sumatera.

Saat ini usaha batik Wecono Asri sedang berkembang. Kasiana sendiri kerap mempekerjakan delapan orang untuk memenuhi permintaan. Setidaknya 20-50 lembar kain diproduksi setiap bulan. Ada berbagai macam jenis batik tulis, seperti tulisan dan cap.

Dulu, Kasiana pernah bereksperimen membuat pewarna alami dengan menggunakan batang dan daun mangga. Namun karena lokasi rumah yang padat penduduk, bahan baku tidak mudah didapat.

Belum lagi proses pembuatannya yang cukup rumit hingga membuatnya memutuskan untuk membelinya. “Sebenarnya warnanya bagus atau jelek dalam teknik pewarnaannya. Jadi meskipun itu pewarna sintetis, jika diwarnai dengan benar dan bisa dipadukan warnanya, hasilnya bagus,” jelasnya.

Bagi Kasiana, aktivitas membatik sangat menyenangkan. Ia bisa mengekspresikan dirinya dengan bebas melalui fotonya. Ada kepuasan bila karyanya disukai oleh pengguna. Saat ini banyak pengecer dari seluruh Indonesia yang juga memburu batiknya karena harganya yang cukup tinggi.

Corak dan corak warna yang menarik membuat produk Wecono Asri Kasiana menjadi cita rasa salah satu warga Kota Kediri yang bekerja di kedutaan Perancis. Puluhan potong batik dibeli untuk dipajang dan dijual di negara mode ini.

Itu sebabnya Kasiana optimistis produk batiknya bisa terbang ke luar negeri. Itu belum berhasil mengingat rumitnya pengelolaan dokumen administrasi dan bea cukai.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *